Berita Dan Info Unique

POLRI Memburu Penyebar Berita Bohong Terkait Bom Sarinah

95

Tak dipungkiri peristiwa bom Sarinah kemarin menggemparkan Indonesia bahkan dunia. Isu-isu pun bermunculan seperti isu yang sekarang ini menjadi perbincangan hangat di media sosial adalah dugaan bahwa peristiwa bom Sarinah sebuah rekayasa POLRI untuk pengalihan isu.

Seperti yang sudah diberitakan unique|NEWS pada Kamis (14/01/2016) yang lalu bahwa ibu kota Indonesia, Jakarta, diteror serangkaian serangan bom dan baku tembak yang mewarnai serangan tersebut.

Berita terakhir yang unique|NEWS dapat, kurang lebih terjadi 6 ledakan bom terdengar di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat yang mengakibatkan 7 orang tewas di Jl.Thamrin.

Lima korban tewas adalah pelaku pengeboman dan penembakan itu sendiri. ISIS telah mengklaim bahwa merekalah yang berada di balik serangan itu.

Menyikapi hal ini Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Inspektur Jenderal Anton Charliyan, menegaskan akan memburu penyebar informasi bohong terkait dengan aksi terorisme tersebut.

“Saat ini mulai ada yang mengatakan ledakan (di Thamrin) adalah rekayasa TNI dan Polri,” kata Anton di gedung Divisi Humas Mabes Polri, Sabtu (16/01/2016).

Berita semacam ini sangat berbahaya jika dibiarkan terus menyebar ke masyarakat, karena akan dikonsumsi anak-anak dan masyarakat yang kurang memahami situasi, selain itu juga akan menghilangkan kepercayaan masyarakat pada pemerintah.

Anton menjelaskan saat ini tim dari Cyber Crime Mabes Polri mulai mencari penyebar berita-berita bohong semacam itu.

Namun kendala yang dihadapi, biasanya pemilik akun memiliki lebih dari 1 alamat email. “E-mail address itu biasanya palsu. Namun akan kami cari operator aslinya,” ungkap Anton.

Sejak peristiwa bom Sarinah informasi jenis ini (berita bohong) meningkat dan menjadi viral baik di sosial media atau di media online lainnya.

Berita yang di-update pun bermacam-macam, ada yang mengatakan bahwa peristiwa bom tersebut adalah pengalihan isu, ada juga yang mengatakan hanya sebuah rekayasa dari TNI dan POLRI.

Anton mengatakan bahwa tidak mungkin peristiwa itu adalah sebuah rekayasa. Ia menegaskan akan menangkap para pelaku yang menyebarkan berita bohong tersebut.

Akan tetapi jika konteksnya hate speech maka akan memanggil pelaku untuk dimintai keterangan.

“Padahal tak mungkin rekayasa, ada korban begitu banyak, jika terbukti menyebarkan informasi yang tak benar atau hoax, akan dilakukan penangkapan. Karena ini menebar kebohongan dan sengaja ingin melawan negara,” ungkap Anton.

Post Terkait

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.