Kisah Pengungsi Syria Dari Penjual Pulpen Kini Mempunyai Restoran Sendiri

207

Konflik di timur tengah memang semakin memanas belakangan ini. Perang yang mengakibatkan korban-korban sipil tidak lagi terelakan.

Banyak warga sipil yang terpaksa harus kehilangan sanak saudara mereka dan juga harta benda berharga mereka akibat perang. Sebagian lainnya memilih untuk pergi mengungsi setelah mereka kehilangan segalanya dan terlebih lagi terancam keselamatannya.

Seperti seorang Abdul Halim al-Attar yang beberapa waktu lalu fotonya menjadi viral di internet dan mendapat simpati yang begitu luar biasa dari warga dunia.

Dia adalah salah satu pengungsi Syria akibat perang di negara tersebut. Fotonya ketika sedang menjual pulpen di jalanan Beirut, Lebanon, sedang menggendong anaknya begitu menyentuh.

Foto yang diambil oleh seorang aktivis hak asasi manusia asal Norwegia, Gissur Simonarson, ini langsung menjadi viral di internet. Berbagai tanggapan netizen menghiasi halaman-halaman internet yang memuat berita tentang ayah 2 orang anak tersebut. Tidak terkecuali di media sosial.

Akibat publikasi yang luar biasa ini akhirnya para netizen berinisiatif untuk menggalang dana agar bisa membantu meringankan kehidupan Abdul Halim beserta keluarganya.

Diluar dugaan, hasil dari penggalangan dana tersebut mencapai nominal $191.000 atau Rp. 2.483.000.000 (kurs 13.000 rupiah)! Penggalangan dana dilakukan lewat situs Indiegogo yang memang merupakan situs penggalangan dana.

Uang yang didapat oleh Abdul tidak ia habiskan semuanya. Disishkannya sebesar $25.000 untuk diberikan kepada keluarga dan para kerabatnya.

Sisanya ia gunakan untuk membuka usaha di Lebanon. Ia kini memiliki toko roti, kios kebab dan juga restoran untuk dikelola. Dan bahkan kini ia mampu untuk memperkerjakan 6 pengungsi Syria sebagai pegawainya.

Abdul mengatakan, “Ini tidak hanya mengubah hidup saya sendiri, tetapi juga hidup anak-anak saya dan juga para pengungsi yang sudah saya bantu.”

“Saya harus mengolah uang tersebut jika tidak akan habis dengan percuma,” tambahnya.

Kini kedua anaknya, Abdullelah (9) dan Reem (4), sudah bisa hidup dengan berkecukupan. Mereka kini tinggal di apartemen di Beirut. Dan bisa melanjutkan lagi sekolahnya yang sempat terhenti selama 3 tahun akibat konflik.

Perjuangan yang tidak sis-sia bahkan ketika tidak punya apa-apa Abdul Halim masih bisa menjaga harga dirinya dengan mencari uang halal walaupun hanya dengan menjual pulpen yang hasilnya tidak seberapa.

Kini kesabaran dan pengorbanannya membuahkan hasil yang manis.

Post Terkait

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.