Buku Radikal Ditemukan di Pelajaran TK

160

Sungguh miris melihat kenyataan-kenyataan yang ada di akhir jaman ini, akhir-akhir ini kembali ditemukan sebuah buku pelajaran Taman Kanak-Kanak (TK) yang mengandung unsur radikalisme di Depok, Jawa Barat.

Yang menjadi sasaran untuk diracuni tidak hanya orang-orang dewasa tapi usia anak-anakpun mulai dijadikan sasaran untuk dimasuki pemikiran-pemikiran radikal demi kepentingan pribadi atau golongan.

Sebagai orang tua yang tidak ingin anaknya terjerumus ke hal yang membahayakan mereka dan orang lain, tidak ada salahnya jika harus selalu meningkatkan kewaspadaan untuk pengawasan anak dalam bergaul atau dalam pelajarannya di sekolah atau tempat lainnya.

Mengingat sangat rentannya anak-anak tersebut termakan oleh doktrin atau buku-buku bacaan yang mulai mengincar pemikiran mereka, sebagai orang tua harus menjaga dan membimbing mereka dalam pemahaman sesuatu.

Buku yang beredar di pelajaran Taman Kanak-Kanak yang di temukan di Depok ini sangat meresahkan warga.

Seperti yang sudah diberitakan di media cetak dan elektronik bahwa Gerakan Pemuda Ansor (GP ANSOR) menemukan buku pelajaran tingkat Taman Kanak-Kanak (TK) yang di dalamnya berisi unsur radikalisme, buku tersebut cetakan Solo, Jawa Tengah.

Benny Rhamdani yang menjabat sebagai wakil GP Ansor mengatakan bahwa penemuan tersebut adalah menindaklanjuti laporan dari salah satu orang tua murid di TK tersebut pada Selasa (19/01/16).

“Kami menemukan fakta di lapangan bahwa ada upaya pihak-pihak tertentu yang senantiasa menggunakan media sekolah untuk menyebarkan benih radikalisme di tengah masyarakat kita, salah satunya lewat buku ini. Ini patut diduga upaya mencuci otak kepada anak-anak terkait paham radikalisme,” ucap Benny dalam jumpa pers di kantor GP Ansor, Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat, Rabu (20/1/2016).

Buku berbau unsur radikalisme yang ditemukan itu dikemas apik dalam bentuk metode belajar membaca praktis untuk anak usia TK di dalamnya ditemukan sekitar 32 kalimat yang menjurus atau menggiring pemikiran anak-anak kepada tindakan radikalisme, seperti sabotase, gelora hati ke Saudi, bom, sahid di medan jihad, cari lokasi di Kota Bekasi.

Dan ada juga kalimat atau kata-kata yang lain seperti rela mati bela agama, gegana ada di mana, bila agama kita dihina kita tiada rela, basoka dibawa lari, selesai raih bantai kyai dan kenapa fobia pada agama.

Kekhawatiran yang ada saat ini adalah jika buku tersebut menyebar di berbagai daerah akan menimbulkan dampak yang kurang baik untuk generasi penerus di republik ini.

“Berdasarkan informasi, TK yang menjadikan buku ini sebagai bahan pelajaran di Depok, kabarnya dijadikan tempat bimbingan dan konsultasi metode belajar membaca praktis. Dikhawatirkan di beberapa wilayah lain buku ini juga tersebar. Di tangan kami ada 5 jilid. Buku ini dicetak pertama tahun 1999 kemudian tahun 2015 sudah mencapai cetakan ke-167. Penerbitnya dari Solo,” tambah Benny.

Adung Abdurrochman, sekjen GP Ansor, juga ikut memberi penjelasan, menurutnya penulis buku tersebut adalah merupakan kerabat dari pimpinan kelompok radikal di daerah Solo, Jawa Tengah.

Himbauan dari Adung supaya seluruh masyarakat Indonesia turut serta mewaspadai peredaran buku ini yang sudah merambah di kalangan anak-anak yang sedang memasuki pendidikan usia dini (PAUD).

Dan lebih bahayanya lagi adalah buku ini beredar di toko-toko buku, akan tetapi buku ini juga sudah merambah internet yang akan lebih mudah membelinya.

Post Terkait

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.